Wednesday, May 16, 2007

Kesan pertama begitu menggoda. Selanjutnya, ya gitu deh...!

Dalam masalah sinetron, boleh dibilang RCTI adalah masternya. Bukan karena kualitas yang mencolok mata, tapi dari kuantitas atau jumlah yang memang gila-gilaan. Bayangin aja, dari pagi ampe siang 80% layar didominasi sinetron kita yang sarat mata melotot dan orang yang tertindas. Tapi ditengah banyaknya sinetron2 yang "katanya" memiliki rating asoy alias tinggi itu, cuma dikit yang bener2 berkualitas. Salah satunya, INTAN.

Waktu pertama kali gw nonton sinetron ini, jujur aja gw gak begitu impressed dgn skenario dan akting pemain-pemain sinetron yang diproduksi SinemArt ini. Tapi setelah hampir setiap hari gw didoktrin nyokap yang setia nonton ini sinetron tiap sore, gw jadi pengen tahu. Sebegitu hebatkah sinetron ini? Dan jawaban gw waktu itu jelas, sinetron ini beda jauh kualitasnya dari sinetron2 RCTI lainnya. Walau pada episode awal mimik Naysila Mirdad yang memerankan Intan terasa cheesy dan gak natural, ceritanya yang mengalir dan tidak adanya karakter hitam/putih yang wajib ada di sinetron kita memuaskan naluri kualitas gw (halah). Bukan apa-apa, dalam kehidupan sehari-hari, jarang banget (bahkan hampir mustahil) gw temuin orang-orang yang (hitam) jahat sejahat2nya menindas orang yang (putih) baik sebaik2nya sampe2 rela disiram aer, dibakar, dibanting, dipukul, ditampar, dijambak, apalah! Biasanya, orang sebaik apapun sadar kalau membiarkan diri dijahatin itu juga gak menambah nilai plus di mata dunia. Yang bertambah cuma luka yang nambah susah nyari jodoh (hadu kok malah ngaco).

Kembali ke INTAN, sempurnanya jalan cerita sinetron ini terus berlanjut sampai beberapa bulan dari pertama kali gw nonton. Seringkali tebakan gw akan jalan cerita ternyata salah. Ini hal yang sangat jarang gw temuin di sinetron Indonesia yang biasanya easy to guess dan predictable (sama aja kali). Singkatnya, pesona skenario sinetron ini teruuuuus sampe ceritanya si Rado buta. Disini sih belum terlalu ngaco, tapi ceritanya mulai predictable dan tembakan demi tembakan prediksi gw ternyata bener. Yang lebih bikin kaget lagi (hahaha) pada episode-episode ini gw baru sadar kalo sinetron ini adalah hasil adaptasi "kalo gak mau disebut plagiat) dari sebuah serial korea yang jujur gw lupa namanya. Tp kalo gak salah...waduh lupa beneran deh gw.

Cerita pun berlanjut lagi. Rado diceritakan meninggal karena bingung eh bukan, karena kebakaran di kafe yang rencananya bakal jadi tempat pertemuan Intan dan Rado. Yah lu pikirin ajalah, buta+kebakaran+panik+kafe. Hasilnya ya Orange Juice, eh mati. Oke-oke, gw masih terimalah idenya. Walo jujur gw anggep skenario ini absurd karena kyknya kebarakan di sebuah kafe kecil yang bentuk fisik bangunannya (waduh jadi teknis deh) terbuka tanpa dinding dan pintu gak akan semematikan kebakaran di rumah susun ato rumah turimungun (satu ribut semua bangun) yang banyak di Jakarta. Tapi okelah, Rado mati. Terus? Tamat dong? Oh ternyata gak. SinemArt masi Pede nerusin sinetron walau tanpa inti cerita yang jelas. Apa INtan mau dibikin jatuh cinta ama orang lain dan Rado bakal jadi bintang2 lainnya diangkasa? Ternyata tidak. Rado ternyata masih hidup. HA??? KoK bisa?????!!! Ya bisalah, INdonesia gitu.

Rado ternyata terselamatkan oleh seorang cewek gak penting yang kedatangan dan kepergiannya juga gak penting. Satu2nya yang penting dari cewek ini adalah punya suami yang fisiknya persis sama Rado. Suaminya itu bernama Aditya. Dan si Aditya ini baru aja meninggal. Dan kebetulan, si Rado yang buta muncul ditengah kebakaran, keantuk batu, lupa ingatan, dan selanjutnya bisa ketebak kan? Si cewek gak penting memanfaatkan Rado untuk meneruskan kehidupannya bersama Aditya. Harapannya, ingetan Rado gak bakal balik jadi mereka bakal bisa terus hidup bersama dan bahagia selama2nya kayak cerita Putri salju. Hoh? Masa gitu akhirnya? Ya gaklah....di sinetron Indonesia, kalo ada cewek gak penting, selalu ada cowok gak pentingnya. Cowok gak penting ini ternyata jadi bosnya si Intan yang lagi pusing nyari duit karena rumah keluarga mantan suami alias mertuanya disita bank karena utang bapak mertuanya yang gak pake tedeng aling2 maen valas dan bapak angkatnya si Intan pun mengenalkan penipu untuk membantu Anwar Fuady yang jd bapak mertua Intan. Hokeh deh, singkatnya si cowok gak penting jatuh cinta juga sama Intan. Si Intan sih seperti biasa cuma mesem2 gak jelas. yang mengejutkan dari bagian sini adalah kemunculan Rado/Aditya di kantor cowok gak penting sebagai partner si cowok gak penting. Ceritanya, Aditya ini playboy dan suka sama Intan. Oke...skip the crap.

Sekarang, cewek dan cowok gak penting uda gak ada. Si cewek mati ketiban kayu karena gempa (:p) waktu lagi makan malem sama Rado yang uda bukan Aditya. Si ceewek ngerelain Rado gitu lah. Terus Si cowok juga ada disitu. Skip the crap..........

Intan dan Rado pun kawin. Hmm...gw rasa kalo gw penulis skenario sekaligus produsernya, gw bakal namatin sinetron ini disini. Karena gw ngerasa, menambah event dan konflik baru cuma akan menimbulkan character assasination bagi karakter2 yang sudah kuat akarnya. Tapi sayangnya, tuhan eh PH-nya berkehendak lain. Ceritanya berlanjut lagi dengan konflik baru yaitu Intan gak punya anak. Ibunya Rado mendadak jadi psycho yg gak mau denger omongan siapapun dan cuma bisa ngomong satu kata. Cucuuuuuuuuuuuuuu, sayangnya mo sampe bibir doer juga gak bakal bisa punya cucu. Solusi baru muncul, si Rado disuruh kawin kontrak sama cewek gak penting seri kedua yang juga punya masalah dan konflik sendiri. Sampe sini, skenario sudah sangat2 jelas dibuat oleh penulis skenario Indonesia yang gak punya kreativitas abis. Pokoknya semua yang punya potensi menyiksa jiwa penonton dikerahkan, membuat INtan gak lagi unik. Konflik yg ada gak lagi terpikirkan secara dalam dan terkesan datang dan pergi seperti lagu letto yang jadi soundtracknya.

Kau datang dan pergi....oh begitu saja

Okeh iklannya abis, cerita yang menyiksa kembali menghibur (atau menyiksa) pikiran penontonnya. Intan sekarang memang bukan yang dulu. Sekarang, Intan sudah dijarah Freeport, dikorup Pemda, dirobek DPRD, disiram Kejaksaan Tinggi. Ceritanya gak lagi seperti milestone yang punya pencapaian sendiri setiap minggunya. Yang dicapai INtan saat ini cuma sampe mana rating turun dan naik. INtan kembali lagi ke takdir awalnya sebagai sinetron Indonesia, yaitu penghasil uang buat channel televisi. Padahal, tadinya Intan yang terbaik. Tadinya Intan yang terdepan. Tadinya Intan yang terkeren. Ini semua ngingetin gw sama quote yang terkenal diantara crew sinetron Tersanjung yang legendaris, Tadinya Tersanjung cuma satu. Dan ternyata sinetron ini pun belum bisa meruntuhkan anggapan sinetron Indonesia yang kesan pertamanya begitu menggoda, selanjutnya ya gitu deh. Capek gw.

Ada yang mo kirimin gw Intan versi koreanya gak? Pengen liat gw aslinya gimana.

5 comments:

Septian said...

waduh2, malah cerita sinetron, agak bagus sih, tapi takut ketagihan. Kapan ya, aku melihat tayangan2 yang keren gitu, ehm..tau ga film HERO dari NBC, aku rindu tontonan gituan di RCTI, semoga pas pulang Indo nanti ga kaget pas nonton TV.
Thanks reviewnya,,,

Iko said...

Ternyata, pecinta sinetron jg....

uknee said...

bener banget tuh..lama2 kok ceritanya kaya diada2in biar panjang..mulai berbelok2 ga jelas..jadi males nontonya..yah begitu deh sinetron indonesia..kalo rating tinggi..cerita tambah panjang..

Banowati said...

anaknya Intan dah besar tuh... malah sekarang ceritanya tentang persaingan anaknya Intan ma anaknya Romi... mulai aneh aja... Tersanjung wannabe kah?

aldi said...

Udah tamat tuch...