Thursday, May 4, 2006

Kok gitu sih......

Judul diatas jadi satu-satunya kata-kata yang keluar dari mulut nyokap, bokap, kakak gw, dan gw. Rasanya kaget sekali melihat breaking news Metro TV sekitar jam 2 siang tadi. Akhirnya, demo buruh yang sudah dipuji-puji karena pada tanggal 1 Mei kemarin, yang justru merupakan demonstrasi utama, yang disebut juga sebagai May Day, sama sekali tidak ada aksi anarkis. Cukup kaget dan rasanya trauma terhadap kerusuhan 1998 terulang kembali. Saat 1998, gw masih 8 tahun, tapi lo gak bisa bayangin gimana traumanya gw saat itu. Kerusuhan Mei 1998 jadi sebuah momentum "penyadarn diri" gw dari lagu-lagu kebangsaan dan perjuangan, dan berbagai pujian terhadap bangsa ini ke kenyataan yang sebenarnya yaitu sebuah bangsa yang menjadi sarang KKN (Korupsi Kolusi & Nepotisme). Rasanya sudah capek melihat aksi2 anrkis yang dilakukan oleh orang2 yang dulu pernah menjadi korban anarkisme pada masa2 Orde Baru dulu. Mereka tidak sadar bahwa untuk membangun pagar jalan tol yang harganya ratusan juta itu diperlukan keringat mereka! Berapa banyak uang yang dipotong dari pajak penghasilan, yang justru merupakan keringat mereka, dihancurkan hanya karena emosi sesaat yang tidak menghasilkan apa-apa. Bukan, bukan berarti gw ini pro pemerintah, justru gw menilai pemerintah juga kurang baik merespon aksi2 buruh selama ini. Pemerintah hanya bisa menghujat saat anarki, dan memuji saat damai. Sampai saat ini, kata demokrasi masih diartikan sebagai, "biasalah itu namanya juga demokrasi, ya ada pro kontra lah!" tanpa ada keingin tahuan kenapa masih ada orang yang kontra kalau peraturan ini sudah begitu baiknya? Jangan hanya bisa mengatakan, "biasalah yang namanya perbedaan pendapat!" tapi akhirnya peraturan yang kontroversial ini laju2 aja. Gw juga capeeeeeek banget ngelihat orang ngomong, "kalau dalam demokrasi itu yang mayoritas lebih dipentingkan". Kelihatan kan begonya? Apa mereka gak sadar kalo sampe saat ini mayoritas penduduk Indonesia ini masih belum sadar hukum dan pendidikan, jadi ya bisa dibilang yang mayoritas itu belum tentu benar (ingat lo belum tentu benar, bukannya gak benar). Kembali ke topik awal, rasa-rasanya buruh bisa lebih pintar menyikapi revisi UU Tenaga Kerja no 13 ini. Tentunya dengan sikap DPR (duh gw lupa komisi brp) yang menyatakan tidak akan mau membahas revisi ini sudah bisa menjadi jaminan, paling tidak sampai revisi UU ini diajukan pemerintah ke DPR nanti. Pegang saja omongan DPR, kalo mereka bohong, BARU ANCURIN ITU PAGERNYA! Jangan sekarang saat DPR masih pro ke buruh malah pagernya diancurin.....

Gw juga melihat arah-arah Indonesia menuju era yang paling gelap yang pernah dirasakan oleh Indonesia. Kenapa? Karena saat ini sudah sangat subur ormas-ormas separatis (that's how i call it) yang terus mengumandangkan suara-suara lantang tanpa mau tahu ada yang gak setuju. Tiap ada yang gak setuju, langsung diberangus! Gw melihat ormas2 seperti ini akan SEMAKIN BANYAK mengikuti perkembangan respon polisi yang terkesan diam2 saja tanpa ada respon lebih jauh. Aksi penyerbuan ke rumah Ratna Sarumpaet dan karaoke Vizta milik Inul Daratista bisa menjadi contoh nyata. Kata-kata ketua FBR (Forum Betawi Rempug) yang mengatakan "kalau tidak mau minta maaf kita akan usir dari jakarta!" dia juga mengatakan, "kami sebagai warga pribumi disini merasa tersinggung dengan adanya aksi2 yang kami anggap melanggar norma agama Islam". Padahal, kata "pribumi" sudah tidak relevan dengan adanya perkembangan zaman, internet, dan terlebih lagi, masa-masa globalisasi. Gw kemaren juga inget nonton acara Today's Dialogue dimana Ratna Sarumpaet berdebat dengan ketua FBR. Ketua FBR sempat meneriakkan "APA? NGAKU-NGAKU BETAWI! NGAKU-NGAKU MUALAF! GAK ADA TUH NAMA SARUMPAET ORANG BETAWI! ORANG BETAWI MANA ADA NAMANYA SARUMPAET! KALO MUALAF YA....."(suara mengecil karena ada balasan dari Ratna S.) "Suami saya....iyu orang betawi...campur Arab, malah saya denger anda bukan orang betawi." dan dibalas lagi dengan berteriak lantang dengan logat kampung, "SAYA ORANG BETAWI ASLI!!!! DAN ORANG BETAWI ITU SEMUANYA MUSLIM!!! GA ADA YANG AGAMA LAIN!!!" dah segitu aja dulu, soalnya ntar emosi gw naik. Nah, terlepas dari kontroversi RUU APP, sebaiknya kita sebagai umat muslim tidak mengumbar-umbar emosi seperti itu, terlebih lagi sang ketua FBR sudah menyentuh SARA (Suku Agama Ras dan Antar golongan) yang dilarang keras ditampilkan di televisi. Juga saat acara berakhir, terlihat si ketua FBR tidak mau bersalaman dengan Ratna S. dan hanya bersalaman dengan Mutia Hafidz, si pembawa acara. Padahal, di islam diajarkan untuk selalu mementingkan silaturahmi bahkan dengan orang jahat sekalipun. Oh ya, masih ingat kan tahun 1998, saat orang2 yang mengaku pribumi jakarta membakar2 aset milik orang2 cina dan orang2 yang dianggap bukan orang pribumi. Ada apa ini? Apa kita mau kembali lagi ke era pribumi dan non-pribumi? Ingat! Ini sudah tahun 2006! Dan indonesia masih jalan di tempat! Masih tidak bisa memfokuskan diri dan masih banyak orang2 miskin! Padahal kalau orang2 FBR yang sering berdemo dan sweeping membatalkan aksi mereka dan mengamalkan uang jalan, makan dan lain-lain ke orang miskin mungkin lebih baik daripada berkoar-koar memperlihatkan kebodohan dan kemunafikan yang sebenarnya tidak perlu.

2 comments:

Anonymous said...

Excellent, love it! »

Anonymous said...

That's a great story. Waiting for more. film editing schools